Minggu, 15 Oktober 2017

Haikai (俳諧)



Haikai (俳諧)

A.   Pengertian Haikai
Arti Haikai adalah sesuatu yang jenaka atau lucu. Sejak adanya pembuatan 58 buah puisi waka yang jenaka dalam Kokinshu maka dalam kumpulan puisi pun banyak dimuat puisi yang bercorak jenaka ini. Pada zama Chusei, puisi yang berada dalam Kanshi, Waka, ataupun Renga, kalau di dalamnya terdapat ungkapan kelucuan maka puisi tersebut disebut Haikai. Itulah sebabnya di pertengahan Chusei (abad pertengahan) sampai permulaan Kinsei (zaman modern) sangat diminati sebagai Haikai no Renga yang memfokuskan tentang kelucuan.
Kemudian karena dianggap dapat berdiri sendiri dan terlepas dari puisi Renga, maka Haikai no Renga mulai ditulis dengan Haiku saja. Kalau dilihat dari sejarahnya pada pertengahan abad ke-14 dalam puisi Renga yang disebut Tsubasu Shu, Haiku masih merupakan dari puisi Renga. Namun pada abad ke-15 dalam Shinsetsukubashu dikatakan bahwa Haiku berbeda dengan Renga sehingga semua Haiku yang berada dalam kumpulan puisi itu dikeluarkan. Pada awal abad ke-16, melalui kumpulan Haiku dari Yamazaki Sokan maupun Aragita Moritake, terlihat jelas adanya suatu kelucuan yang tidak ada dalam Renga, sehingga Haiku dapat diakui sebagai suatu karya sastra dalam bidang puisi yang baru.
Haikai dimulai dengan 17 suku kata pada bait pertama, yaitu 5, 7, 5 dan dilanjutkan dengan 14 suku kata atau 7, 7, dan kembali lagi ke bait berikutnya dengan 17 suku kata lalu 14 suku kata, dan demikian seterusnya. Aturan ini diulang-ulang sampai menghasilkan suatu puisi yang bermakna. Puisi yang banyak dibuat oleh orang biasa ini, aturannya masih sama dengan Renga. Begitu memasuki zaman modern dengan memudarkan kepopuleran puisi Renga, maka puisi Haikai semakin populer dan mengalami kemajuan. Kemudian melahirkan berbagai macam aliran, khususnya Haikai yang dibuat oleh Matsuo Basho, yang boleh dikatakan merupakan awal kejayaannya.

B.   Masa Perkembangan Haikai
Haikai diciptakan pada zaman sebelumnya, ketika memasuki zaman Edo berkembang dengan pesat karena sesuai dengan selera rakyat. Perkembangan Haikai ini berkat jasa Matsunaga Teitoku.
1.     Aliran Haikai
a.     Aliran Teimon
Teitoku mengumpulkan karya murid-muridnya dalam sebuah buku Enokoshuu, kemudian menerbitkannya. Di samping itu, berdasarkan Inutsukubashuu ia menyusun sebuah kamus tentang kosa kata Haikai dengan judul Gosan (payung) dan sebuah buku lain yang berjudul Shinzoo Inutsubashuu (Inutsubashuu Baru) yang menjelaskan pemakaian sesungguhnya dari Renku (bait dari Haikai). Penerbitan-penerbitan ini sangat mendidik rakyat biasa dalam masalah kesusastraan. Murid-murid Teitoku dinamakan kelompok Teimon. Diantaranya terdapat beberapa orang yang terkenal, seperti Matsuge Shigeyori, Yasuhara Teihitsu, dan Kitamura Kigin.
Contoh Haikai aliran Teimon :
Shi-o ruruwa nanika anzu-no hana-no iru, (Teitoku)
Melihat bunga Anzu yang telah layu, aku teringat sesuatu
Junrei-no boo bakari yuku natsuno kana (Shigeyori)
Di padang belakang terlihat ujung tongkat musafir yang berwarna putih
Suzushisa-no katamari nareya yowa-no tsuki (Teihitsu)
Di musim panas semuanya panas, hanya bulan di malam buta yang sejuk
Maza maza-to imasuga gotoshi tama matsuri (Kigin)
Kata-kata kuno sekarang pun masih berlaku

b.      Aliran Danrin
Para penganut Matsunaga Teitoku yang juga disebut Teimon, lebih mengutamakan permainan kata-kata yang ditekankan pada hal-hal yang menjadi bahan tertawaan atau lucu. Lambat laun aliran ini membosankan orang dan sebagai reaksi terhadap itu timbul timbul aliran Danrin. Pembentukan syair dalam aliran ini tidak mengikuti pola-pola bait (5-7-5 sukukata) yang biasa digunakan dalam Haikai sehingga jumlah suku kata pada kata-kata yang dipergunakannya kadang-kadang lebih kadang-kadang kurang. Isinya pun aneh luar biasa dan pengungkapannya bersifat sangat bebas. Penyair kenamaan dalam aliran ini ialah Nishiyama Sooin dan pengikutnya Ihara Saikaku serta penyair-penyair muda lainnya terutama dari kalangan rakyat jelata. Aliran ini mula-mula timbul di Osaka, kemudian menyebar ke Kyoto dan Edo dan sangat populer sampai ke daerah-daerah. Pantun ini seakan-akan merupakan tempat curahan perasaan kehidupan rakyat jelata.
Contoh :
Sareba kokoni Danrin-no ki ari ume-no hana (Sooin)
            6                      8                      5
Sekarang disini mekar bunga Ume yang rindang
Tai-wa hana-wa minu sato-mo ari kyoo-no tsuki (Saikaku)
            6                           7                 5
Mungkin ada juga desa yang tidak pernah melihat ikan “tai” dan bunga yang cantik, tapi bulan hari ini dari mana pun kelihatan, sekalipun dari desa yang miskin

c.       Aliran Bashoo
1.      Perintis Aliran Bashoo
Pantun aliran Danrin tidak beberapa lama kemudian, sebelum sempurna, telah mengalami kemusnahan disebabkan isinya yang terlalu bersifat bebas. Pada tahun Enpoo sampai tahun Tenwa (1675-1683), penyair-penyair seperti, Ikenishi Gonsui, Konishi Raizan, Uejima Onitsura, Yamaguchi Sodoo, Matsuo Bashoo, dan lain-lain berusaha mengenyampingkan aliran Danrin dan menciptakan aliran baru. Di antaranya Onitsura mencoba memusatkan gubahannya pada hakekat ‘makoto’ (kesungguhan atau kebenaran) dan dengan bertitik tolak dari hakekat ini ia mengembangkan pantun-pantun berbahasa lisan yang sederhana sifatnya.
Contoh :
Kogarashi-no hate-wa arikeri umi-no oto (Gonsui)
      5                      7                      5
Sampai dimanakah angin kencang di musim dingin akan berhembus, apabila terdengar desir air laut, tentulah di sana tiba-tibanya
Shirauo-ya sanagara ugoku mizu-no iro (Raizan)
      5                   7                         5
Kalau kita jatuhkan pandangan kita ke dasar laut, maka akan tampak ikan Shirauo, seakan-akan air laut yang bergerak.
Nanto kyoo-no atsusa-wato ishi-no chiri-o fuku (Onitsura)
      6                      8                      5
Betapa panasnya hari ini, tak satu pun yang dapat dikerjakan,  hanya meniup abu di atas batu itu
Me-niwa aoba yamahototogisu hatsugatsuo (Soodo)
6              7                      5
Di hadapan tampak menghijau, di gunung terdengar siul burung Hototogisu dan ikan Cakalang pertama akan kita cicipi

2.      Kesusastraan Bashoo
Ketika muda Bashoo menaruh perhatian pada gubahan-gubahan Matsunaga Teitoku. Ia keluar dari kehidupannya dari seorang samurai dan merantau ke Edo. Disitu ia mulai memupuk karirnya. Pada mulanya ia sering membaca pantun-pantun Danrin, tapi lambat laun ia mulai menjurus pada terbentuknya gaya gubahannya sendiri yang bersifat sunyi, sepi, tapi mulia. Ia menyenangi perjalanan terutama mendekati masa tuanya. Ia sering mengadakan perjalanan kemana-mana sampai akhir hayatnya. Ia meninggal di tengah perjalanan, yaitu di Osaka. Ia juga sangat menyenangi alam, ini tampak pada gaya gubahannya. Karyanya antara lain, Oku-no Hosomichi (Jalan Kecil di Pedalaman), Nozarashi Kikoo (Catatan Perjalanan), Oi-no Kobumi, Genjuan-no Ki (Catatan di Genjuan), dan lain-lain. Karya-karya ini berbentuk catatan dan pantun Haikai.

3.      Haikai Aliran Bashoo
Gaya Bashoo sangat menonjol sejak munculnya Minashiguri pada tahun Tenwa 3 (1683). Gaya ini lebih terbentuk lagi sejak tebitnya Fuyu-no Hi (Musim Salju) pada tahun Jookyoo 1 (1684). Sebenarnya di dalam Fuyu-no Hi masih tampak cara pengungkapan yang masih samar sifatnya, tapi pada Haru-no Hi (Musim Semi), Arano (Padang Liar), dan Hisago sedikit demi sedikit tampak lebih mantap dan pada Sarumino yaitu pada tahun Genroku 4 (1691) gaya Bashoo mencapai puncaknya. Ia lebih tenang, mantap, dan khas. Selanjutnya pada tahun Genroku 7 (1694), timbul gubahannya yang berjudul Sumidawara. Pada karya ini Nampak ciri khasnya menurun. Mulai dari Fuyu-no Hi hingga Zoku Sarumino (Sarumino Lanjutan) terkumpul sebanyak 7 jilid kumpulan pantun Bashoo dan dari ini dapat diketahui perkembangan Bashoo.
Bashoo sendiri tidak meninggalkan tulisan tentang argumentasi pantunnya sendiri. Akan tetapi pandangan Bashoo terhadap pantun Haikai dapat diketahui dari tulisan-tulisan pengikutnya, yaitu tulisan Mukai Kyorai yang berjudul Kyoraishoo (Catatan Kyorai) dan tulisan Hattori Tohoo yang berjudul Sanzooshi (Tiga Jilid Buku).
Contoh :
Horo horo-to yamabuki chiruka tachi-no oto (Bashoo)
     5                             7                    5
Satu per satu bunga Yamabuki berguguran dan terdengar gemericik air terjun
Shizukasa-ya iwa-ni Shimiiru semi-no koe (Bashoo)
     5                      7                         5
Hening sunyi, hanya desing belalang seakan meresap ke pori batu besar itu
Ume-ga ka-ne notto hi-no deru yamaji kana (Bashoo)
     5                            7                     5
Dalam perjalanan mendaki gunung, tampak bunga Ume mekar menyemarakkan harumnya dan mataharipun mulai menampakkan wajahnya
Ryo-ni yande yume-wa kareno-o kakemeguru (Bashoo)
5                              7                        5
Aku sakit dalam perjalanan dan mimpi, dalam mimpi itu aku masih dalam perjalanan menjajaki padang daun-daun kering

4.      Murid-Murid Bashoo
Murid-murid Bashoo sangat banyak, diantaranya ada sepuluh orang yang menonjol, yaitu Enomoto Kikaku, Hattori Ransetsu, Mukai Kyorai, Naitoo Joosoo, Shida Yaba, Sugiyama Sanpuu, Ochi Etsujin, Tachibana Hokushi, Kagami Shikoo, dan Morikawa Kyoriku. Selain itu masih ada lagi Nozawa Bonchoo, Hirose Izen dan lain-lain. Akan tetapi karena Haikai Bashoo berakar sangat mendalam pada wataknya sendiri, maka sukar bagi murid-muridnya untuk mencapai tingkatan yang sedalam seperti yang pernah dicapainya. Maka dari itu, mereka hanya berpegang pada prinsip-prinsip dasar Bashoo dan masing-masing mengembangkan bakatnya serta alirannya sendiri.
Contoh :
Echigoya-ni kinu saku oto-ya koromogae (Kikaku)
Di toko Echigoya terdengar suara pemotongan kain, teringatlah bahwa sebentar lagi akan tiba musim baru.
Nure-en-ya nazuna koboruru tsuchi-nagara (Ransetsu)
Entah siapa membawa daun Nazuna ke dalam rumah, melihat akar Nazuna itu berceceran di atas lantai teras, teringatlah bahwa kini sudah musim semi.
Oo-oo-to iedo tataku-ya yuki-no mon (Kyorai)
Pada hari yang dingin sekali, entah siapa datang ke rumah mengetuk pintu, biarpun sudah menyahutnya dari dalam ia tetap masih mengetuk pintu.
Shimogyoo-ya yuki tsumu ue-no yoru-no ame (Bonchoo)
Hujan turun pada malam hari, di atas salju di sebelah selatan Kyoto terasalah dinginnya hawa.
Toodago-mo kotsubu-ni narinu aki-no kaze (Kyoriku)
Angin musim gugur bertiup dan pembeli kue onde makin lama makin sedikit, terasalah sebentar lagi musim salju akan tiba.
Jikidoo-ni suzume nakunari yuushigore (Shikoo)
Di ruang makan di sebuah kuil, burung gereja menyanyi-nyanyi, hujan sebentar yang turun diwaktu sore mengingatkan sekarang masih musim gugur.
Honobono-to karasu kuromu-ya mado-no haru (Yaba)
Pada suatu pagi tahun baru, dari jendela kelihatan ada burung gagak hitam, sangat menyolok mata, dibandingkan dengan fajar musim semi yang sedang menyingsing.
Hototogisu naku-ya kosui-no sasanigori (Jooshoo)
Burung Hototogisu menyanyi dan air danau Biwa mulai mengeruh, teringatlah bahwa kini sudah musim semi.

2.     Kebangkitan Pada Zaman Tenmei (1781-1788)
Sepeninggal Bashoo, murid-muridnya masing-masing mengembangkan aliran-alirannya sendiri, aliran-aliran ini menyebabkan kematian haikai. Menghadapi kenyataan ini, pada zaman Tenmei terjadi gerakan yang berusaha membangkitkan haikai ala Bashoo disamping menuntut suatu perubahan. Gerakan ini disebut gerakan kebangkitan pada zaman Tenmei. Selama gerakan ini berlangsung muncul banyak penyair bermutu yang mengembangkan variasinya sendiri-sendiri. Mula-mula pada zaman Meiwa (1764-1771) ada penyair yang bernama Tantaigi dan Yokoi Yayuu. Taiga pandai dalam membuat haikaiyang bertemakan orang, sedangkan Yayuu pandai dalam hal lain dan meninggalkan karya yang patutu dihargai yang bernama Uzuragoromo. Selanjutnya dibanyak tempat muncul penyair-penyair yang baik, misalnya di Kyoto ada Yosa Buson beserta muridnya yang bernama Takai Kitoo dan Takakuwa Rankoo. Di Nagoya ada Katoo Kyootai. Di Edo ada Ooshima Ryoota dan Kaya Shirao. Di Ise ada Miura Chora.
Yosa Buson selain sebagai penyair juga sebagai pelukis kelas satu. Variasi pantunnya memberi kesan yang bersifat lukisan kepada orang yang membacanya. Selain itu, kalau oantun haikai Bashoo bersifat subyektif, pantun haikai Yosha Buson bersifat Obyektif.
Contoh :
Kochi fuku-to katari-mozo yuku shuu-to zusa (Taigi)
Angina dingi musim salju bertiup, samurai dan pengikutnay menempuh perjalanan sambil berbincang-bincang melupakan statusnya masing-masing.
Yuku haru-ya omotaki biwa-no dakigokoro (Buson)
Melihat musim semi telah berlalu, teraslah hati berat memangku alat musik biwa.
Samidare-ya taiga-o mai-ni ie niken (Buson)
Pada suatu musim hujan rintik-rintik, terlihat dua buah rumah gubuk berada berdampingan didepan sebuah kali yang besar.
Haru-no umi hinemosu-no tari-no tari kana (Buson)
Di laut pada waktu musim semi, selama sehari penuh terlihat ombak kecil menghempas kian kemari, seolah-olah mengusap-usap pasir di pantai.
Kareashi-no hi-ni hi-ni orete nagerakeri (Rankoo)
Alang-alang di tepi sungai, dari hari ke hari patah mongering satu persatu, terhanyut oleh air sungai yang mengalir terus.
Hikuretari miidera kudaru haru-no hito (Kyootai)
Pada suatu sore hari, setelah mengikuti acara musim semi di kuil miidera yang terletak di bukit, orang-orang menuruni jalan tangga menuju ke bawah
Yo-no naka-wa mikka minuma-ni sakura kana (Ryoota)
Dunia ini dalam tempo tiga hari saja sudah berubah banyak, ibarat pohon sakura, juga dalam tempo tiga hari sudah memekarkan bunganya.
Hito koishi hi tomoshi koro-o sakura chiru (Shirao)
Pada suatu magrib, orang-orang menyalakan lampu, terasalah hati kesal merindukan seseorang yang dekat, ibarat melihat bunga sakura yang merontok.
Sukashi mete hoshi-ni samishiki yanagi kana (Chora)
Dari sela-sela dedaunan pohon Willow yang bergoyang-goyang, terlihat bintang-bintang di langit terasalah kesepian yang datang menyelubungi.


3.     Haikai Pada Zaman Kaseiki (1804-1829)
Memasuki zaman Bunka (1808-1818) dan Bunsei (1818-1829), penyebaran haikai makin meluas dan mencapai taraf yang sangat popular dikalangan rakyat biasa. Namun biarpun dari segi kuantitas, jumlahnya sangat banyak sekali, tetapi dari segi kualitas, haiaki pada waktu ini menurun, sehingga secara keseluruhan bisa dikatakan tidak ada perkembangan laebih lanjut. Dalam keadaan seperti ini, hanya ada seorang penyair yang bernama Koba-yashi Issa yang boleh dikatakan menonjol. Ia tidak terbawa oleh arus pada waktu itu dan mengembangkan variasi khasnya tersendiri dengan mempergunakan bahasa rakyat biasa dan dialek sehari-hari. Ia memasukkan unsur-unsur kehidupan sehari-hari kedalam gubahannya, sehingga haikai yang diciptakannya penuh dengan penggambaran tentang manusia. Diantara sekian banyak karyanya terdapat kumpulan haikainya yang bernama Oragaru (musim semiku). Setelah itu, masih ada lagi Chichi-no Shuuen Nikki (Catatan harian tentang ayah menjelang ajalnya) yang juga bernilai tinggi yang ditulisnya ketika ia merawat ayahnya yang sedang sakit.
Contoh :
Yasegaeru makeru-na issa kore-ni ari
Melihat dua ekor katak berkelahi, aku berseru : “Hei! Katak yang kurus, janganlah kau sampai kalah, karena aku ada di sisimu.”
Naku neko-ni akanme-o shite temari kana
Melihat kucing mengeong, aku mengejeknya serta menakut-nakutinya seraya menepak-nepak bola
Medetasa-mo chuukurai nari oragaharu
Melihat tahun baru tahun ini, aku berada di tengah-tengah, tidak susah juga tidak senang, inilah hidupku
Dengan demikian, haikai berkembang dari zaman ke zaman, makin lama makin popular, sampai akhirnya menjadi kesusastraan rakyat dan tersebar di seluruh negeri Jepang. Namun, dibalik kepopulerannya itu, dari segi nilai sastra, tidak sedikit Haikai yang bermutu rendah. Dalam keadaan ini, Haikai memasuki zaman berikutnya yang baru, yaitu zaman Meiji.



C.   Matsunaga Teitoku 
Nama asli dari Matsunaga Teitoku adalah Matsunaga Katsuguma yang juga disebut Shoyuken, atau Chozumaru (lahir 1571, meninggal Kyoto-3 Januari 1654, Kyoto). Matsunaga Teitoku adalah seorang sarjana terkenal di Jepang dan  penyair Haikai dari periode Tokugawa awal (1603-1867) yang mendirikan Teitoku (Teimon) sekolah puisi Haikai. Teitoku mengangkat Haikai-komik renga ("ayat-ayat terkait") yang terdiri  dari 17 suku kata atau lebih, dimana puisi tersebut lebih serius daripada puisi Bashoo karena kalimat dan maknanya dapat diterima dan membuatnya menjadi gaya puitis populer.
Matsunaga Teitoku adalah anak dari seorang penyair Renga professional. Selain itu dia juga menerima pendidikan yang sangat baik dari beberapa penyair terbaik dari hari ke hari.  Pada sekitar tahun 1620  Matsunaga Teitoku membuka sekolah Teitoku di rumahnya, dimana awalnya dia lebih fokus pada pendidikan anak-anak, namun lama kelamaan dia lebih tertarik dalam bimbingan calon penyair.
Sepanjang waktu Matsuna Teitoku telah menulis banyak puisi, dari yang serius, seperti Waka dan Renga, dan juga puisi yang lebih ringan, seperti Haikai. Meskipun enggan pada awalnya, dia membiarkan salah seorang siswa untuk mempublikasikan sejumlah Haikai nya di Enokoshu antologi pada tahun 1633. Buku ini telah membuat dirinya sebagai penyair terkemuka dari abad awal hingga abad pertengahan, dan karena itu pula banyak puisi yang terinspirasi untuk menulis Haikai. Beberapa koleksi puisinya bantak yang diterbitkan, termasuk Taka Tsukuba (1638) dan Shinzo inu Tsukuba shu (1643). Matsunaga Teitoku juga menetapkan aturan-aturan yang telah dirumuskan untuk menulis Haikai di Gosan pada tahun 1651.
Contoh Haikai Matsunaga Teitoku :
七夕のなかうどなれや宵の月
(Tanabata no nakaudo nare ya yoi no tsuki)
Silahkan menjadi mak comblang untuk bintang Tanabata di malam ini
花よりも団子やありて帰る雁
(Hana yori mo Dango ya arite kaeru kari).
Lebih baik makan pangsit daripada menonton bunga Sakura


DAFTAR PUSTAKA
Mandah, Darsimah, dkk. Pengantar Kesusastraan Jepang. 1992. Jakarta: PT Grasindo.
Asoo, Isoji dkk . Sejarah Kesusastraan Jepang. 1983. Jakarta: Universitas Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar