Haikai (俳諧)
A.
Pengertian Haikai
Arti Haikai
adalah sesuatu yang jenaka atau lucu. Sejak adanya pembuatan 58 buah puisi waka
yang jenaka dalam Kokinshu maka dalam kumpulan puisi pun banyak dimuat puisi
yang bercorak jenaka ini. Pada zama Chusei, puisi yang berada dalam Kanshi,
Waka, ataupun Renga, kalau di dalamnya terdapat ungkapan kelucuan maka puisi
tersebut disebut Haikai. Itulah sebabnya di pertengahan Chusei (abad
pertengahan) sampai permulaan Kinsei (zaman modern) sangat diminati sebagai
Haikai no Renga yang memfokuskan tentang kelucuan.
Kemudian karena
dianggap dapat berdiri sendiri dan terlepas dari puisi Renga, maka Haikai no
Renga mulai ditulis dengan Haiku saja. Kalau dilihat dari sejarahnya pada
pertengahan abad ke-14 dalam puisi Renga yang disebut Tsubasu Shu, Haiku masih
merupakan dari puisi Renga. Namun pada abad ke-15 dalam Shinsetsukubashu
dikatakan bahwa Haiku berbeda dengan Renga sehingga semua Haiku yang berada
dalam kumpulan puisi itu dikeluarkan. Pada awal abad ke-16, melalui kumpulan
Haiku dari Yamazaki Sokan maupun Aragita Moritake, terlihat jelas adanya suatu
kelucuan yang tidak ada dalam Renga, sehingga Haiku dapat diakui sebagai suatu
karya sastra dalam bidang puisi yang baru.
Haikai dimulai
dengan 17 suku kata pada bait pertama, yaitu 5, 7, 5 dan dilanjutkan dengan 14
suku kata atau 7, 7, dan kembali lagi ke bait berikutnya dengan 17 suku kata
lalu 14 suku kata, dan demikian seterusnya. Aturan ini diulang-ulang sampai
menghasilkan suatu puisi yang bermakna. Puisi yang banyak dibuat oleh orang
biasa ini, aturannya masih sama dengan Renga. Begitu memasuki zaman modern
dengan memudarkan kepopuleran puisi Renga, maka puisi Haikai semakin populer
dan mengalami kemajuan. Kemudian melahirkan berbagai macam aliran, khususnya
Haikai yang dibuat oleh Matsuo Basho, yang boleh dikatakan merupakan awal
kejayaannya.
B.
Masa Perkembangan Haikai
Haikai
diciptakan pada zaman sebelumnya, ketika memasuki zaman Edo berkembang dengan
pesat karena sesuai dengan selera rakyat. Perkembangan Haikai ini berkat jasa
Matsunaga Teitoku.
1.
Aliran Haikai
a.
Aliran Teimon
Teitoku
mengumpulkan karya murid-muridnya dalam sebuah buku Enokoshuu, kemudian
menerbitkannya. Di samping itu, berdasarkan Inutsukubashuu ia menyusun sebuah
kamus tentang kosa kata Haikai dengan judul Gosan (payung) dan sebuah buku lain
yang berjudul Shinzoo Inutsubashuu (Inutsubashuu Baru) yang menjelaskan
pemakaian sesungguhnya dari Renku (bait dari Haikai). Penerbitan-penerbitan ini
sangat mendidik rakyat biasa dalam masalah kesusastraan. Murid-murid Teitoku
dinamakan kelompok Teimon. Diantaranya terdapat beberapa orang yang terkenal,
seperti Matsuge Shigeyori, Yasuhara Teihitsu, dan Kitamura Kigin.
Contoh
Haikai aliran Teimon :
Shi-o ruruwa
nanika anzu-no hana-no iru, (Teitoku)
Melihat bunga
Anzu yang telah layu, aku teringat sesuatu
Junrei-no boo
bakari yuku natsuno kana (Shigeyori)
Di padang
belakang terlihat ujung tongkat musafir yang berwarna putih
Suzushisa-no
katamari nareya yowa-no tsuki
(Teihitsu)
Di musim panas
semuanya panas, hanya bulan di malam buta yang sejuk
Maza maza-to
imasuga gotoshi tama matsuri
(Kigin)
Kata-kata kuno
sekarang pun masih berlaku
b.
Aliran Danrin
Para
penganut Matsunaga Teitoku yang juga disebut Teimon, lebih mengutamakan
permainan kata-kata yang ditekankan pada hal-hal yang menjadi bahan tertawaan
atau lucu. Lambat laun aliran ini membosankan orang dan sebagai reaksi terhadap
itu timbul timbul aliran Danrin. Pembentukan syair dalam aliran ini tidak
mengikuti pola-pola bait (5-7-5 sukukata) yang biasa digunakan dalam Haikai
sehingga jumlah suku kata pada kata-kata yang dipergunakannya kadang-kadang
lebih kadang-kadang kurang. Isinya pun aneh luar biasa dan pengungkapannya
bersifat sangat bebas. Penyair kenamaan dalam aliran ini ialah Nishiyama Sooin
dan pengikutnya Ihara Saikaku serta penyair-penyair muda lainnya terutama dari
kalangan rakyat jelata. Aliran ini mula-mula timbul di Osaka, kemudian menyebar
ke Kyoto dan Edo dan sangat populer sampai ke daerah-daerah. Pantun ini
seakan-akan merupakan tempat curahan perasaan kehidupan rakyat jelata.
Contoh
:
Sareba kokoni
Danrin-no ki ari ume-no hana
(Sooin)
6 8 5
Sekarang disini
mekar bunga Ume yang rindang
Tai-wa hana-wa
minu sato-mo ari kyoo-no tsuki
(Saikaku)
6 7 5
Mungkin ada
juga desa yang tidak pernah melihat ikan “tai” dan bunga yang cantik, tapi
bulan hari ini dari mana pun kelihatan, sekalipun dari desa yang miskin
c.
Aliran Bashoo
1.
Perintis Aliran Bashoo
Pantun aliran Danrin tidak beberapa
lama kemudian, sebelum sempurna, telah mengalami kemusnahan disebabkan isinya
yang terlalu bersifat bebas. Pada tahun Enpoo sampai tahun Tenwa (1675-1683),
penyair-penyair seperti, Ikenishi Gonsui, Konishi Raizan, Uejima Onitsura,
Yamaguchi Sodoo, Matsuo Bashoo, dan lain-lain berusaha mengenyampingkan aliran
Danrin dan menciptakan aliran baru. Di antaranya Onitsura mencoba memusatkan
gubahannya pada hakekat ‘makoto’ (kesungguhan atau kebenaran) dan dengan
bertitik tolak dari hakekat ini ia mengembangkan pantun-pantun berbahasa lisan
yang sederhana sifatnya.
Contoh :
Kogarashi-no hate-wa arikeri umi-no oto (Gonsui)
5 7 5
Sampai dimanakah angin kencang di musim dingin akan berhembus,
apabila terdengar desir air laut, tentulah di sana tiba-tibanya
Shirauo-ya sanagara ugoku mizu-no iro (Raizan)
5 7 5
Kalau kita jatuhkan pandangan kita ke dasar laut, maka akan tampak
ikan Shirauo, seakan-akan air laut yang bergerak.
Nanto kyoo-no atsusa-wato ishi-no chiri-o fuku (Onitsura)
6 8 5
Betapa panasnya hari ini, tak satu pun yang dapat dikerjakan, hanya meniup abu di atas batu itu
Me-niwa aoba yamahototogisu hatsugatsuo (Soodo)
6
7 5
Di hadapan tampak menghijau, di gunung terdengar siul burung
Hototogisu dan ikan Cakalang pertama akan kita cicipi
2.
Kesusastraan
Bashoo
Ketika muda Bashoo menaruh perhatian
pada gubahan-gubahan Matsunaga Teitoku. Ia keluar dari kehidupannya dari
seorang samurai dan merantau ke Edo. Disitu ia mulai memupuk karirnya. Pada
mulanya ia sering membaca pantun-pantun Danrin, tapi lambat laun ia mulai
menjurus pada terbentuknya gaya gubahannya sendiri yang bersifat sunyi, sepi,
tapi mulia. Ia menyenangi perjalanan terutama mendekati masa tuanya. Ia sering
mengadakan perjalanan kemana-mana sampai akhir hayatnya. Ia meninggal di tengah
perjalanan, yaitu di Osaka. Ia juga sangat menyenangi alam, ini tampak pada
gaya gubahannya. Karyanya antara lain, Oku-no Hosomichi (Jalan Kecil di
Pedalaman), Nozarashi Kikoo (Catatan Perjalanan), Oi-no Kobumi, Genjuan-no Ki
(Catatan di Genjuan), dan lain-lain. Karya-karya ini berbentuk catatan dan
pantun Haikai.
3.
Haikai
Aliran Bashoo
Gaya Bashoo sangat menonjol sejak
munculnya Minashiguri pada tahun Tenwa 3 (1683). Gaya ini lebih terbentuk lagi
sejak tebitnya Fuyu-no Hi (Musim Salju) pada tahun Jookyoo 1 (1684). Sebenarnya
di dalam Fuyu-no Hi masih tampak cara pengungkapan yang masih samar sifatnya,
tapi pada Haru-no Hi (Musim Semi), Arano (Padang Liar), dan Hisago sedikit demi
sedikit tampak lebih mantap dan pada Sarumino yaitu pada tahun Genroku 4 (1691)
gaya Bashoo mencapai puncaknya. Ia lebih tenang, mantap, dan khas. Selanjutnya
pada tahun Genroku 7 (1694), timbul gubahannya yang berjudul Sumidawara. Pada
karya ini Nampak ciri khasnya menurun. Mulai dari Fuyu-no Hi hingga Zoku
Sarumino (Sarumino Lanjutan) terkumpul sebanyak 7 jilid kumpulan pantun Bashoo
dan dari ini dapat diketahui perkembangan Bashoo.
Bashoo sendiri tidak meninggalkan
tulisan tentang argumentasi pantunnya sendiri. Akan tetapi pandangan Bashoo
terhadap pantun Haikai dapat diketahui dari tulisan-tulisan pengikutnya, yaitu
tulisan Mukai Kyorai yang berjudul Kyoraishoo (Catatan Kyorai) dan tulisan
Hattori Tohoo yang berjudul Sanzooshi (Tiga Jilid Buku).
Contoh :
Horo horo-to yamabuki chiruka
tachi-no oto (Bashoo)
5 7 5
Satu per satu bunga Yamabuki
berguguran dan terdengar gemericik air terjun
Shizukasa-ya iwa-ni Shimiiru semi-no
koe (Bashoo)
5 7 5
Hening sunyi, hanya desing belalang
seakan meresap ke pori batu besar itu
Ume-ga ka-ne notto hi-no deru yamaji
kana (Bashoo)
5 7 5
Dalam perjalanan mendaki gunung, tampak bunga Ume mekar
menyemarakkan harumnya dan mataharipun mulai menampakkan wajahnya
Ryo-ni yande yume-wa kareno-o
kakemeguru (Bashoo)
5
7 5
Aku sakit dalam perjalanan dan
mimpi, dalam mimpi itu aku masih dalam perjalanan menjajaki padang daun-daun kering
4.
Murid-Murid
Bashoo
Murid-murid Bashoo sangat banyak,
diantaranya ada sepuluh orang yang menonjol, yaitu Enomoto Kikaku, Hattori
Ransetsu, Mukai Kyorai, Naitoo Joosoo, Shida Yaba, Sugiyama Sanpuu, Ochi
Etsujin, Tachibana Hokushi, Kagami Shikoo, dan Morikawa Kyoriku. Selain itu
masih ada lagi Nozawa Bonchoo, Hirose Izen dan lain-lain. Akan tetapi karena
Haikai Bashoo berakar sangat mendalam pada wataknya sendiri, maka sukar bagi
murid-muridnya untuk mencapai tingkatan yang sedalam seperti yang pernah
dicapainya. Maka dari itu, mereka hanya berpegang pada prinsip-prinsip dasar
Bashoo dan masing-masing mengembangkan bakatnya serta alirannya sendiri.
Contoh :
Echigoya-ni kinu saku oto-ya koromogae (Kikaku)
Di toko Echigoya terdengar suara pemotongan kain, teringatlah bahwa
sebentar lagi akan tiba musim baru.
Nure-en-ya nazuna koboruru tsuchi-nagara (Ransetsu)
Entah siapa membawa daun Nazuna ke dalam rumah, melihat akar Nazuna
itu berceceran di atas lantai teras, teringatlah bahwa kini sudah musim semi.
Oo-oo-to iedo tataku-ya yuki-no mon (Kyorai)
Pada hari yang dingin sekali, entah siapa datang ke rumah mengetuk
pintu, biarpun sudah menyahutnya dari dalam ia tetap masih mengetuk pintu.
Shimogyoo-ya yuki tsumu ue-no yoru-no ame (Bonchoo)
Hujan turun pada malam hari, di atas salju di sebelah selatan Kyoto
terasalah dinginnya hawa.
Toodago-mo kotsubu-ni narinu aki-no kaze (Kyoriku)
Angin musim gugur bertiup dan pembeli kue onde makin lama makin
sedikit, terasalah sebentar lagi musim salju akan tiba.
Jikidoo-ni suzume nakunari yuushigore (Shikoo)
Di ruang makan di sebuah kuil, burung gereja menyanyi-nyanyi, hujan
sebentar yang turun diwaktu sore mengingatkan sekarang masih musim gugur.
Honobono-to karasu kuromu-ya mado-no haru (Yaba)
Pada suatu pagi tahun baru, dari jendela kelihatan ada burung gagak
hitam, sangat menyolok mata, dibandingkan dengan fajar musim semi yang sedang
menyingsing.
Hototogisu naku-ya kosui-no sasanigori (Jooshoo)
Burung Hototogisu menyanyi dan air danau Biwa mulai mengeruh,
teringatlah bahwa kini sudah musim semi.
2.
Kebangkitan Pada Zaman Tenmei (1781-1788)
Sepeninggal
Bashoo, murid-muridnya masing-masing mengembangkan aliran-alirannya sendiri,
aliran-aliran ini menyebabkan kematian haikai. Menghadapi kenyataan ini, pada
zaman Tenmei terjadi gerakan yang berusaha membangkitkan haikai ala Bashoo
disamping menuntut suatu perubahan. Gerakan ini disebut gerakan kebangkitan
pada zaman Tenmei. Selama gerakan ini berlangsung muncul banyak penyair bermutu
yang mengembangkan variasinya sendiri-sendiri. Mula-mula pada zaman Meiwa
(1764-1771) ada penyair yang bernama Tantaigi dan Yokoi Yayuu. Taiga pandai
dalam membuat haikaiyang bertemakan orang, sedangkan Yayuu pandai dalam hal
lain dan meninggalkan karya yang patutu dihargai yang bernama Uzuragoromo. Selanjutnya
dibanyak tempat muncul penyair-penyair yang baik, misalnya di Kyoto ada Yosa
Buson beserta muridnya yang bernama Takai Kitoo dan Takakuwa Rankoo. Di Nagoya
ada Katoo Kyootai. Di Edo ada Ooshima Ryoota dan Kaya Shirao. Di Ise ada Miura
Chora.
Yosa
Buson selain sebagai penyair juga sebagai pelukis kelas satu. Variasi pantunnya
memberi kesan yang bersifat lukisan kepada orang yang membacanya. Selain itu,
kalau oantun haikai Bashoo bersifat subyektif, pantun haikai Yosha Buson
bersifat Obyektif.
Contoh
:
Kochi fuku-to katari-mozo yuku shuu-to zusa (Taigi)
Angina dingi musim salju bertiup, samurai dan pengikutnay menempuh
perjalanan sambil berbincang-bincang melupakan statusnya masing-masing.
Yuku haru-ya omotaki biwa-no dakigokoro (Buson)
Melihat musim semi telah berlalu, teraslah hati berat memangku alat
musik biwa.
Samidare-ya taiga-o mai-ni ie niken (Buson)
Pada suatu musim hujan rintik-rintik, terlihat dua buah rumah gubuk
berada berdampingan didepan sebuah kali yang besar.
Haru-no umi hinemosu-no tari-no tari kana (Buson)
Di laut pada waktu musim semi, selama sehari penuh terlihat ombak
kecil menghempas kian kemari, seolah-olah mengusap-usap pasir di pantai.
Kareashi-no hi-ni hi-ni orete nagerakeri (Rankoo)
Alang-alang di tepi sungai, dari hari ke hari patah mongering satu
persatu, terhanyut oleh air sungai yang mengalir terus.
Hikuretari miidera kudaru haru-no hito (Kyootai)
Pada suatu sore hari, setelah mengikuti acara musim semi di kuil
miidera yang terletak di bukit, orang-orang menuruni jalan tangga menuju ke
bawah
Yo-no naka-wa mikka minuma-ni sakura kana (Ryoota)
Dunia ini dalam tempo tiga hari saja sudah berubah banyak, ibarat
pohon sakura, juga dalam tempo tiga hari sudah memekarkan bunganya.
Hito koishi hi tomoshi koro-o sakura chiru (Shirao)
Pada suatu magrib, orang-orang menyalakan lampu, terasalah hati
kesal merindukan seseorang yang dekat, ibarat melihat bunga sakura yang
merontok.
Sukashi mete hoshi-ni samishiki yanagi kana (Chora)
Dari sela-sela dedaunan pohon Willow yang bergoyang-goyang,
terlihat bintang-bintang di langit terasalah kesepian yang datang menyelubungi.
3.
Haikai Pada Zaman Kaseiki (1804-1829)
Memasuki
zaman Bunka (1808-1818) dan Bunsei (1818-1829), penyebaran haikai makin meluas
dan mencapai taraf yang sangat popular dikalangan rakyat biasa. Namun biarpun
dari segi kuantitas, jumlahnya sangat banyak sekali, tetapi dari segi kualitas,
haiaki pada waktu ini menurun, sehingga secara keseluruhan bisa dikatakan tidak
ada perkembangan laebih lanjut. Dalam keadaan seperti ini, hanya ada seorang
penyair yang bernama Koba-yashi Issa yang boleh dikatakan menonjol. Ia tidak
terbawa oleh arus pada waktu itu dan mengembangkan variasi khasnya tersendiri
dengan mempergunakan bahasa rakyat biasa dan dialek sehari-hari. Ia memasukkan
unsur-unsur kehidupan sehari-hari kedalam gubahannya, sehingga haikai yang
diciptakannya penuh dengan penggambaran tentang manusia. Diantara sekian banyak
karyanya terdapat kumpulan haikainya yang bernama Oragaru (musim semiku). Setelah
itu, masih ada lagi Chichi-no Shuuen Nikki (Catatan harian tentang ayah menjelang
ajalnya) yang juga bernilai tinggi yang ditulisnya ketika ia merawat ayahnya
yang sedang sakit.
Contoh
:
Yasegaeru
makeru-na issa kore-ni ari
Melihat
dua ekor katak berkelahi, aku berseru : “Hei! Katak yang kurus, janganlah kau
sampai kalah, karena aku ada di sisimu.”
Naku
neko-ni akanme-o shite temari kana
Melihat
kucing mengeong, aku mengejeknya serta menakut-nakutinya seraya menepak-nepak
bola
Medetasa-mo
chuukurai nari oragaharu
Melihat
tahun baru tahun ini, aku berada di tengah-tengah, tidak susah juga tidak
senang, inilah hidupku
Dengan demikian, haikai berkembang
dari zaman ke zaman, makin lama makin popular, sampai akhirnya menjadi
kesusastraan rakyat dan tersebar di seluruh negeri Jepang. Namun, dibalik
kepopulerannya itu, dari segi nilai sastra, tidak sedikit Haikai yang bermutu
rendah. Dalam keadaan ini, Haikai memasuki zaman berikutnya yang baru, yaitu zaman
Meiji.
C.
Matsunaga Teitoku
Nama asli dari Matsunaga Teitoku adalah Matsunaga Katsuguma yang juga disebut Shoyuken,
atau Chozumaru (lahir 1571, meninggal Kyoto-3 Januari 1654, Kyoto).
Matsunaga Teitoku adalah seorang sarjana terkenal di Jepang dan penyair Haikai dari periode
Tokugawa awal (1603-1867) yang mendirikan Teitoku (Teimon) sekolah puisi Haikai. Teitoku
mengangkat Haikai-komik renga ("ayat-ayat terkait") yang terdiri dari 17 suku
kata atau lebih,
dimana puisi tersebut lebih serius daripada
puisi Bashoo
karena kalimat dan maknanya dapat diterima dan membuatnya menjadi gaya puitis populer.
Matsunaga
Teitoku adalah
anak dari seorang penyair Renga
professional. Selain itu dia juga menerima pendidikan yang sangat baik dari
beberapa penyair terbaik dari hari ke
hari. Pada
sekitar tahun 1620 Matsunaga Teitoku membuka sekolah Teitoku di rumahnya, dimana awalnya dia lebih fokus pada pendidikan anak-anak, namun lama kelamaan dia lebih tertarik dalam bimbingan calon penyair.
Sepanjang waktu Matsuna
Teitoku telah menulis banyak puisi, dari yang serius, seperti Waka dan Renga, dan juga puisi yang lebih ringan, seperti Haikai. Meskipun
enggan pada awalnya, dia membiarkan salah seorang siswa untuk mempublikasikan
sejumlah Haikai nya di Enokoshu antologi pada tahun 1633. Buku ini telah membuat dirinya sebagai penyair terkemuka dari abad
awal hingga abad pertengahan, dan karena itu pula banyak puisi
yang terinspirasi
untuk menulis Haikai. Beberapa koleksi puisinya bantak yang diterbitkan, termasuk Taka Tsukuba (1638) dan
Shinzo inu Tsukuba shu (1643). Matsunaga Teitoku juga
menetapkan aturan-aturan yang telah dirumuskan untuk menulis Haikai di Gosan pada tahun 1651.
Contoh Haikai Matsunaga
Teitoku :
七夕のなかうどなれや宵の月
(Tanabata no nakaudo nare ya yoi no tsuki)
七夕のなかうどなれや宵の月
(Tanabata no nakaudo nare ya yoi no tsuki)
Silahkan
menjadi mak comblang untuk bintang Tanabata di malam ini
花よりも団子やありて帰る雁
(Hana yori mo Dango ya arite kaeru kari).
Lebih baik makan pangsit daripada menonton bunga Sakura
Lebih baik makan pangsit daripada menonton bunga Sakura
DAFTAR PUSTAKA
Mandah, Darsimah, dkk. Pengantar Kesusastraan Jepang. 1992. Jakarta:
PT Grasindo.
Asoo, Isoji dkk . Sejarah Kesusastraan Jepang. 1983. Jakarta:
Universitas Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar