Minggu, 16 Juni 2013

Samurai


A.    Pengertian Samurai
Samurai ( atau ?) adalah istilah untuk perwira militer kelas elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang. Kata "Samurai" berasal dari kata kerja "Samorau" asal bahasa Jepang kuno, dan pada zaman Nara, (710 – 784), berubah menjadi "Saburau" yang berarti "Melayani", serta pada zaman Azuchi-Momoyama (1573 – 1600) dan awal zaman Edo (1603), istilah saburai berubah akhirnya menjadi "Samurai" yang bekerja sebagai pelayan bagi sang majikan yang kemudian Samurai berubah pengertian menjadi “orang yang mengabdi”. Selain itu terdapat pula istilah lain yang mengacu kepada samurai yakni bushi. Istilah bushi ( 武士 ) yang berarti “orang yang dipersenjatai/kaum militer”, pertama kali muncul di dalam Shoku Nihongi ( 続日本紀 ).Pada bagian catatan itu tertulis “secara umum, rakyat dan pejuang (bushi) adalah harta negara”. Kemudian berikutnya istilah samurai dan bushi menjadi sinonim pada akhir abad ke-12 (zaman Kamakura). Berikut adalah beberapa sebutan untuk Samurai. Diantaranya adala Buke (ahli bela diri), Musha atau Bugeisha (pakar bela diri), Kabukimono (preman samurai), Mononofu (satria panglima) dan Shi (huruf kanji pengganti Samurai).

Namun selain itu dalam sejarah militer Jepang, terdapat kelompok samurai yang tidak terikat/mengabdi kepada seorang pemimpin/atasan yang dikenal dengan rōnin ( 浪人 ). Rōnin ini sudah ada sejak zaman Muromachi (1392).
istilah rōnin digunakan bagi samurai tak bertuan pada zaman Edo (1603 – 1867). Dikarenakan adanya pertempuran yang berkepanjangan sehingga banyak samurai yang kehilangan tuannya
kehidupan seorang rōnin bagaikan ombak dilaut tanpa arah tujuan yang jelas. Ada beberapa alasan seorang samurai menjadi rōnin.Seorang samurai dapat mengundurkan diri dari tugasnya untuk menjalani hidup sebagai rōnin. Adapula rōnin yang berasal dari garis keturunan, anak seorang rōnin secara otomatis akan menjadi rōnin. Eksistensi rōnin makin bertambah jumlahnya diawali berakhirnya perang Sekigahara (1600), yang mengakibatkan jatuhnya kaum samurai/daimyo yang mengakibatkan para samurai kehilangan majikannya.

B.   Sejarah Samurai
Dalam catatan sejarah militer di Jepang, terdapat data-data yang menjelaskan bahwa pada zaman Nara (710 – 784), pasukan militer Jepang mengikuti model yang ada di Cina dengan memberlakukan wajib militer dan dibawah komando langsung Kaisar. Dalam peraturan yang diberlakukan tersebut setiap laki-laki dewasa baik dari kalangan petani maupun bangsawan, kecuali budak diwajibkan untuk mengikuti dinas militer.

Secara materi peraturan ini amat berat, karena para wakil tersebut atau kaum milter harus membekali diri secara materi sehingga banyak yang menyerah dan tidak mematuhi peraturan tersebut. Selain itu pula pada waktu itu kaum petani juga dibebani wajib pajak yang cukup berat sehingga mereka melarikan diri dari kewajiban ini. Pasukan yang kemudian terbentuk dari wajib militer tersebut dikenal dengan sakimori (
防人 ) yang secara harfiah berarti “pembela”, namun pasukan ini tidak ada hubungannya dengan samurai yang ada pada zaman berikutnya.

Setelah tahun 794, ketika ibu kota dipindahkan dari Nara ke Heian (Kyoto), kaum bangsawan menikmati masa kemakmurannya selama 150 tahun dibawah pemerintahan kaisar. Tetapi, pemerintahan daerah yang dibentuk oleh pemerintah pusat justru menekan para penduduk yang mayoritas adalah petani. Pajak yang sangat berat menimbulkan pemberontakan di daerah-daerah, dan mengharuskan petani kecil untuk bergabung dengan tuan tanah yang memiliki pengaruh agar mendapatkan pemasukan yang lebih besar. Dikarenakan keadaan negara yang tidak aman, penjarahan terhadap tuan tanah pun terjadi baik di daerah dan di ibu kota yang memaksa para pemilik shoen (tanah milik pribadi) mempersenjatai keluarga dan para petaninya. Kondisi ini yang kemudian melahirkan kelas militer yang dikenal dengan samurai.

Kelompok toryo (panglima perang) dibawah pimpinan keluarga Taira dan Minamoto muncul sebagai pemenang di Jepang bagian Barat dan Timur, tetapi mereka saling memperebutkan kekuasaan.Pemerintah pusat, dalam hal ini keluarga Fujiwara, tidak mampu mengatasi polarisasi ini, yang mengakibatkan berakhirnya kekuasaan kaum bangsawan.

Kaisar Gonjo yang dikenal anti-Fujiwara, mengadakan perebutan kekuasaan dan memusatkan kekuasaan politiknya dari dalam o-tera yang dikenal dengan insei seiji.Kaisar Shirakawa yang menggantikan kaisar Gonjo akhirnya menjadikan o-tera sebagai markas politiknya. Secara lihai, ia memanfaatkan o-tera sebagai fungsi keagamaan dan fungsi politik. Tentara pengawal o-tera, souhei ( 僧兵 ) pun ia bentuk, termasuk memberi sumbangan tanah (shoen) pada o-tera. Lengkaplah sudah o-tera memenuhi syarat sebagai “negara” di dalam negara.Akibatnya, kelompok kaisar yang anti pemerintahan o-tera mengadakan perlawanan dengan memanfaatkan kelompok Taira dan Minamoto yang sedang bertikai.

Keterlibatan Taira dan Minamoto dalam pertikaian ini berlatar belakang pada kericuhan yang terjadi di istana menyangkut perebutan tahta, antara Fujiwara dan kaisar yang pro maupun kotra terhadap o-tera.Perang antara Minamoto, yang memihak o-tera melawan Taira, yang memihak istana, muncul dalam dua pertempuran besar yakni Perang Hogen (1156) dan Perang Heiji (1159).
Peperangan akhirnya dimenangkan oleh Taira yang menandai perubahan besar dalam struktur kekuasaan politik.Untuk pertama kalinya, kaum samurai muncul sebagai kekuatan politik di istana.
Taira pun mengangkat dirinya sebagai kuge ( 公家 – bangsawan kerajaan), sekaligus memperkokoh posisi samurai-nya. Sebagian besar keluarganya diberi jabatan penting dan dinobatkan sebagai bangsawan.
Keangkuhan keluarga Taira akhirnya melahirkan konspirasi politik tingkat tinggi antara keluarga Minamoto (yang mendapat dukungan dari kaum bangsawan) dengan kaisar Shirakawa yang pada akhirnya mengantarkan keluarga Minamoto mendirikan pemerintahan militer pertama di Kamakura (Kamakura Bakufu; 1192 – 1333).Ketika Minamoto Yoritomo wafat pada tahun 1199, kekuasaan diambil alih oleh keluarga Hojo yang merupakan pengikut Taira. Pada masa kepemimpinan keluarga Hojo (1199 -1336), ajaran Zen masuk dan berkembang di kalangan samurai.Para samurai mengekspresikan Zen sebagai falsafah dan tuntunan hidup mereka.

Pada tahun 1274, bangsa Mongol datang menyerang Jepang.Para samurai yang tidak terbiasa berperang secara berkelompok dengan susah payah dapat mengantisipasi serangan bangsa Mongol tersebut. Untuk mengantisipasi serangan bangsa Mongol yang kedua (tahun 1281), para samurai mendirikan tembok pertahanan di teluk Hakata (pantai pendaratan bangsa mongol) dan mengadopsi taktik serangan malam.Secara menyeluruh, taktik berperang para samurai tidak mampu memberikan kehancuran yang berarti bagi tentara Mongol, yang menggunakan taktik pengepungan besar-besaran, gerak cepat, dan penggunaan senjata baru (dengan menggunakan mesiu).Pada akhirnya, angin topanlah yang menghancurkan armada Mongol, dan mencegah bangsa Mongol untuk menduduki Jepang.Orang Jepang menyebut angin ini kamikaze (dewa angin).

Pada zaman Muromachi (1392 – 1573), diwarnai dengan terpecahnya istana Kyoto menjadi dua, yakni Istana Utara di Kyoto dan Istana Selatan di Nara.Selama 60 tahun terjadi perselisihan sengit antara Istana Utara melawan Istana Selatan (nambokuchō tairitsu).Pertentangan ini memberikan dampak terhadap semakin kuatnya posisi kaum petani dan tuan tanah daerah (shugo daimyō) dan semakin lemahnya shogun Ashikaga di pemerintahan pusat. Pada masa ini, Ashikaga tidak dapat mengontrol para daimyō daerah.Mereka saling memperkuat posisi dan kekuasaannya di wilayah masing-masing.
Setiap Han13 seolah terikat dalam sebuah negara-negara kecil yang saling mengancam. Kondisi ini melahirkan krisis panjang dalam bentuk perang antar tuan tanah daerah atau sengoku jidai (1568 – 1600). Tetapi krisis panjang ini sesungguhnya merupakan penyaringan atau kristalisasi tokoh pemersatu nasional, yakni tokoh yang mampu menundukkan tuan-tuan tanah daerah, sekaligus menyatukan Jepang sebagai “negara nasional” di bawah satu pemerintahan pusat yang kuat. Tokoh tersebut adalah Jenderal Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi.

Samurai di Jaman Edo
Samurai di zaman Edo menjalankan kewajiban melayani tuan tanah feodal masing-masing dengan dua cara. Pertama, menjalankan tugas keprajuritan pada masa damai, yakni menjaga benteng daimyō, mengawal daimyō ketika ia pergi dan pulang ke Edo, dan menyediakan pasukan yang dapat digunakan daimyo untuk menjaga tanahnya.Namun setelah Tokugawa berhasil mewujudkan ketertiban di Jepang pada abad ke-17, para samurai ini kebanyakan menjalankan tugas administrasi. Karena para samurai tidak dapat lagi diandalkan untuk bertempur, shogun dan daimyō tidak ingin menghilangkan nilai kesetiaan dan keberanian samurai, tetapi perkelahian dan balas dendam turun temurun, sering terjadi dan merupakanbagian dari kehidupan samurai yang tidak sesuai dalam masyarakat aman dan damai yang sedang mereka bangun. Untuk mendorong agar para samurai mau menerima perubahan, maka disediakan imbalan. Pada abad ke-18, pejabat mendapat tunjangan tambahan untuk menambah gaji. Pekerjaan yang baik menjadi salah satu pertimbangan untuk naik pangkat, yang membuka kemungkinan untuk naik jabatan.

C.   Pendekar-Pendekar Samurai
1. Miyamoto Musashi
Pendekar samurai di zaman Edo. Menjadi pengembara selama bertahun tahun untuk menjadi pendekar samurai terhebat di Jepang, akhirnya ia menciptakan Nitouryu (teknik bertarung dengan dua pedang).Seorang pendekar hebat yang tidak pernah terkalahkan dalam 60 kali pertarungannya. Mempunyai rival bernama Sasaki Kojiro yang berhasil dibunuhnya dalam duel Ganryujima (duel dari pulau Ganryu).

2. Sasaki Kojiro
Seorang Pendekar samurai dari zaman Edo juga, merupakan rival berat Miyamoto Musashi. Ia terus melatih teknik menebas jurus burung Swallow terbang miliknya, dan memakai pedang samurai bernama Tsubamegaeshi yang panjang seperti tiang jemuran pakaian, sehingga harus dia pikul ketika membawanya.Tewas dalam duel Ganryujima melawan Musashi.

3. Hijikata Toshizo
Seorang pendekar samurai dari Tennenrishinryu. Wakil ketua pasukan Shinsengumi di akhir zaman Edo. Dia adalah teman baik dari Kondo Isami sejak dari kecil. Persahabatan mereka tidak berubah sepanjang hidup mereka. Di dalam berbagai pertempuran setelah kematian Kondo, ia tidak pernah menyerah. Ketika kalah dalam pertempuran penentuan di Hokkaido, ia melompat keluar sebelum musuh menangkapnya dan berpura pura mati. Dia berumur sampai tiga puluh empat tahun.

4. Souji Okita
Souji Okita juga seorang pendekar samurai dari Tennenrishinryu.Kapten unit ke satu dari kelompokShinsengumi. Meskipun Shouji Okita adalah seorang pendekar berbakat, tetapi dia meninggal karena penyakit TBC pada usia dua puluhan.

5. Kondo Isami
Pendekar samurai yang ikut berhasil menyukseskan kelompok Tennenrishinryu (Tennenrishin metode pedang). Kepala pasukan Shinsengumi pada akhir periode Edo. Dia memimpin banyak anggota yang tangguh dengan semangat dan kesetiaan kelompok yang tinggi. Kondo Isami menolak penjatuhan Keshogunan Edo sampai saat terakhir, maka ketika dia kalah dia dihukum penggal.


6. Yagyu Jubei
Pendekar di zaman Edo. Ia adalah pelayan Tokugawa Iemitsu. Dia menguasai Yagyushinkageryu (teknik pedang Yagyushinkage).

7. Sarutobi Sasuke
Salah satu ninja dari klanKoga. Karena ayah angkatnya adalah seorang bawahan tua keluarga Sanada, ia juga melayani Sanada Yukimura. Mempunyai rival bernama Kirigakure Saizo seorang ninja dari klan Iga. Menurut cerita ia meninggal dalam peristiwa Osaka Natsu No Jin (pertempuran Osaka di musim panas).

8. Ninomiya Sontoku
Ninomiya Kinjiro adalah namanya ketika masih kecil. Ia terkenal sebagai anak rajin yang belajar selain rajin membantu pekerjaan orang tuanya. Sampai beberapa tahun lalu, hampir setiap Sekolah Dasar di Jepang terdapat patung perunggu Ninomiya Sontoku yang berjalan membawa kayu bakar di punggungnya sambil membaca buku. Tetapi saat ini banyak patung yang dibongkar, karena pemerintah takut para siswa di Jepang menirunya (membaca buku sambil berjalan), sehingga membahayakan keselamatan mereka.

9. Sakamoto Ryoma
Hampir setiap pahlawan dari Boshin Wars (Revolusi Meiji) adalah pendekar kampung, dia adalah salah satu dari mereka. Sakamoto Ryoma ia pergi ke Edo (Tokyo) dengan ambisi besar dan berpikir tentang masa depan Jepang.Ide berani dan tindakan agresif nya memainkan peran penting untuk era baru Jepang pada masa restorasi Meiji.

10. Oishi Kuranosuke
Pemimpin dari Akou Roushi (samurai tidak bertuan dari Akou). Dia berwatak santai tidak emosional, dan rasional. Jadi, membalas dendam adalah keputusan terakhir baginya. Kebijaksanaan dan kesuksesan strateginya diakui oleh hampir semua orang Jepang.

11. Mito Koumon (Mitsukuni Mito)
Mito Koumon adalah seorang penguasa daerah timur Mito. Dia terkenal sebagai pemimpin yang cerdas dalam sejarah Jepang. Namun, Mito Koumon lebih terkenal sebagai seorang tua yang menyamar, berkeliling negeri mengoreksi ketidakadilan.

D.   Senjata Samurai
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/71/Tachi-p1000620.jpg/180px-Tachi-p1000620.jpg
Pedang samurai atau lebih baik disebut sebagai pedang bangsa Jepang yang digunakan oleh para samurai atau bushi, mereka dikenal dalam sejarah Jepang.Untuk membuka sejarah pedang samurai kita kembali kemasa lalu selama periode abad pertengahan ketika penggunaan baja sebagai ganti perunggu dalam senjata bilah sangat meningkat, pedang bermata tunggal menjadi sangat populer di wilayah asia, dan pembuatan Tachi dan Uchigatana dari Jepang dimulai.Pedang-pedang Jepang atau Nihonto adalah senjata berbilah tradisional sepanjang sejarah peradaban Jepang. Tachi digunakan oleh pasukan kaveleri dengan bentuk lebih panjang dan melengkung dengan sisi tajam mengarah kebawah dari sabuk. Uchigatana digunakan oleh prajurit infantri lebih pendek dengan sisi tajam mengarah keatas.Hanya penempa pedang yang berpengalaman saja yang mampu mengembangkan metode penempaan dan pengaturan panas untuk menghasilkan pedang-pedang sesuai kebutuhan saat itu, yang kemudian dinamakan Katana.Bahkan katana itu sendiri sangat bervariasi dalam gaya selama periode sejarah pedang samurai.Pada akhir abad 14 dan awal abad 15 pedang katana berukuran 70cm dan 73cm,tetapi diawal abad 16 panjang pedang 60cm, namun diakhir abad tersebut pedang kembali berukuran 73cm.Pedang Katana selalu disandingkan dengan pedang Wakizashi atau Shoto,bentuk sama namun lebih pendek, keduanya mewakili kekuatan sosial dan kehormatan pribadi para samurai.

E.     Kepangkatan Samurai
Dalam status sosial sebagai samurai, ada peringkat yang berbeda yang yang diikuti dengan hak yang berbeda. Pada abad ke-12, Ada 3 peringkat utama Samurai. Peringkat ini adalah:
1. Kenin - housemen, yang tugasnya adalah sama sebagai administrator atau pengikut.
2. Foot Prajurit, adalah prajurit yang berjalan kaki.
3. Mount Samurai - peringkat tertinggi samurai, yang diizinkan untuk melawan sambil menunggang kuda.

F.     Adat Istiadat Samurai
1.      Kematian Samurai
Kematian dianggap sebagai jalan yang mulia bagi seorang samurai daripada tindakan pahlawan-pahlawan lain. Cara kematian dianggap suatu hal yang sangat penting bagi seorang samurai. Ajaran yang menerangkan mengenai “mati yang terbaik” telah ditulis di dalam sebuah buku, Hagakure pada kurun ke-18. Ditulis lama selepas tentera samurai berangkat ke medan peperangan, Hagakure – buku tersebut dikatakan telah membawa semangat dan panji samurai ke arah kemelaratan dan kesesatan. Dua Kematian Cara Samurai yaitu Mati Di  Medan Pertempuran dan Seppuku.

Cara Kematian 1: Mati Di Medan Pertempuran
Sebagaimana pejuang-pejuang Islam yang menganggap mati syahid dalam peperangan untuk membela Islam sebagai satu kemuliaan, begitu juga dengan para samurai. Mati dibunuh di medan perang adalah lebih baik daripada hidup tetapi ditangkap oleh musuh. Kebiasaanya, seseorang samurai akan membuat puisi kematian ketika menjelang maut.


Cara Kematian 2: Seppuku
Tindakan di mana seseorang menyobek perutnya, sebagai suatu cara membunuh diri. Merupakan unsur yang paling popular dalam mitos samurai. Bagi seorang samurai, membunuh diri adalah lebih baik daripada membiarkan ditangkap, karena sekiranya samurai itu masih hidup dan ditangkap, ia dianggap membawa malu kepada nama keluarga dan raja.

Di Barat, cara membunuh diri ini dipanggil Hara-kiri (artinya tindakan Membunuh diri dengan membelah perut – tetapi istilah ini tidak digunakan oleh para samurai), tidak diketahui kapan istilah itu digunakan. Walau bagaimana pun, seperti yang tercatat dalam sejarah, Seppuku ini mula dilakukan oleh Minamoto Tametomo dan Minamoto Yorisama pada akhir kurun ke-12. Dari sinilah asalnya seorang samurai memilih cara ini karena lebih mudah melakukan dibandingkan membunuh diri dengan cara memenggal kepala sendiri.

2.      Ritual Pertempuran
Pada pertempuran di abad pertengahan dan periode modern awal ternyata ada ritual. Misalnya, upacara khusus berlaku sebelum masuk ke pertempuran dan ritual khusus yang dilakukan untuk merayakan kemenangan. Sebelum memasuki pertempuran, tidak jarang para Samurai berdo’a yang akan ditawarkan kepada Shinto seperti dewa-dewa perang, meminta bantuan ilahi dalam mengamankan kemenangan. Berselamatan juga disiapkan sebelum pertempuran di mana makan makanan dengan nama-nama yang menunjukkan kemenangan dikonsumsi, seperti kachi Guri, atau chestnut kering.

3.      Perkawinan
Pernikahan samurai dilakukan oleh seorang pengatur pernikahan dengan peringkat sama atau lebih tinggi. Sedangkan bagi mereka samurai di jajaran atas ini adalah sebuah kebutuhan. Ini adalah formalitas untuk samurai peringkat yang lebih rendah. Kebanyakan samurai wanita menikah dari keluarga samurai, tapi untuk pernikahan samurai peringkat rendah, diizinkan dengan rakyat jelata. Dalam sebuah perkawinan, mahar dibawa oleh wanita itu dan digunakan untuk memulai kehidupan baru mereka.Seorang samurai bisa memiliki simpanan tapi latar belakangnya itu diperiksa ketat oleh samurai peringkat yang lebih tinggi. Dalam banyak kasus, ini diperlakukan seperti pernikahan. Jika istri samurai melahirkan anak, ia bisa jadi samurai.

4.      Wanita
Menjaga rumah tangga adalah tugas pokok perempuan samurai. Hal ini khususnya penting selama awal feodal Jepang, ketika suami prajurit sering bepergian ke luar negeri atau terlibat dalam pertempuran, istri dibiarkan untuk mengelola semua urusan rumah tangga, perawatan bagi anak-anak, dan mungkin bahkan mempertahankan rumah secara paksa. Untuk alasan ini, banyak perempuan dari kelas samurai dilatih dalam memegang polearm naginata atau pisau khusus untuk melindungi rumah tangga mereka, keluarga, dan kehormatan jika diperlukan.Ciri-ciri wanita terhormat di kelas samurai kerendahan hati, ketaatan, pengendalian diri, kekuatan, dan kesetiaan. Idealnya, seorang istri samurai akan terampil mengelola properti, menyimpan catatan, berurusan dengan masalah keuangan, mendidik anak-anak dan merawat orang tua usia lanjut. Jadi, seorang wanita juga untuk latihan disiplin.

G.  Taktik Perang
Latihan
Pertempuran persiapan meliputi berbagai kegiatan, termasuk mental serta latihan fisik. Warriors didorong untuk merumuskan filsafat tentang kematian, dan pemikiran ke dalam sikap disiplin mereka terhadap kehidupan, bahaya, dan kematian.

Formasi
Dalam mempersiapkan beberapa pertempuran, tentara samurai terhubung dengan perisai dalam formasi yang disebut kaidate. Linked adalah perisai kayu efektif untuk menghalangi kemajuan lawan, seperti benteng sementara, misalnya hambatan sikat ditumpuk disebut sakamogi, terutama ketika konflik terjadi di ladang atau dataran tinggi yang terbuka. Perisai besar-besaran lebih mudah digunakan daripada hambatan sikat, yang membutuhkan tenaga kerja manusia secara signifikan dan perisai dapat dipindahkan ke lokasi lain setelah digunakan. Namun, dinding perisai sakamogi rentan jika dihadapkan dengan api. Senjata ini disukai oleh prajurit awal abad pertengahan.

Panahan / Kavaleri Strategi
Sejak baju besi oyoroi cukup berat untuk memperlambat kemajuan, busur yang digunakan lemah, pemanah Jepang dipaksa untuk menembak dari jarak dekat. Dengan jarak 10 meter atau kurang antara pemanah dan target, pemanah harus hati-hati mengidentifikasi dan menargetkan kelemahan dalam baju besi lawan.

Sinyal dan Identifikasi
Sinyal menjadi cara yang efektif untuk mengontrol pasukan dari jarak jauh selama pertempuran, karena hanya dengan mengkordinasikan, usaha bisa berhasil. Strategi termasuk penggunaan barang-barang seperti bendera, drum, dan cangkang kerang, serta penyebaran sinyal api dan kurir di belakang baju besi mereka. Seorang komandan juga harus handal dalam menyampaikan pesan perintah untuk jendral lain dan memastikan kepatuhan tepat waktu dengan arahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar