A.
Pengertian Samurai
Samurai
(侍 atau 士?) adalah istilah untuk perwira
militer kelas elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang. Kata
"Samurai" berasal dari kata kerja "Samorau" asal bahasa
Jepang kuno, dan pada zaman Nara, (710 – 784), berubah menjadi "Saburau"
yang berarti "Melayani", serta pada zaman Azuchi-Momoyama (1573 –
1600) dan awal zaman Edo (1603), istilah saburai berubah akhirnya menjadi
"Samurai" yang bekerja sebagai pelayan bagi sang majikan yang
kemudian Samurai berubah pengertian menjadi “orang yang mengabdi”. Selain itu
terdapat pula istilah lain yang mengacu kepada samurai yakni bushi. Istilah
bushi ( 武士 ) yang berarti “orang yang
dipersenjatai/kaum militer”, pertama kali muncul di dalam Shoku Nihongi ( 続日本紀
).Pada bagian catatan itu tertulis “secara umum, rakyat dan pejuang (bushi)
adalah harta negara”. Kemudian berikutnya istilah samurai dan bushi menjadi
sinonim pada akhir abad ke-12 (zaman Kamakura). Berikut adalah beberapa sebutan
untuk Samurai. Diantaranya adala Buke (ahli bela diri), Musha atau Bugeisha
(pakar bela diri), Kabukimono (preman samurai), Mononofu (satria panglima) dan
Shi (huruf kanji pengganti Samurai).
Namun selain itu dalam sejarah militer Jepang, terdapat
kelompok samurai yang tidak terikat/mengabdi kepada seorang pemimpin/atasan
yang dikenal dengan rōnin ( 浪人 ). Rōnin
ini sudah ada sejak zaman Muromachi (1392).
istilah rōnin digunakan bagi samurai tak bertuan pada zaman Edo (1603 – 1867). Dikarenakan adanya pertempuran yang berkepanjangan sehingga banyak samurai yang kehilangan tuannya
kehidupan seorang rōnin bagaikan ombak dilaut tanpa arah tujuan yang jelas. Ada beberapa alasan seorang samurai menjadi rōnin.Seorang samurai dapat mengundurkan diri dari tugasnya untuk menjalani hidup sebagai rōnin. Adapula rōnin yang berasal dari garis keturunan, anak seorang rōnin secara otomatis akan menjadi rōnin. Eksistensi rōnin makin bertambah jumlahnya diawali berakhirnya perang Sekigahara (1600), yang mengakibatkan jatuhnya kaum samurai/daimyo yang mengakibatkan para samurai kehilangan majikannya.
istilah rōnin digunakan bagi samurai tak bertuan pada zaman Edo (1603 – 1867). Dikarenakan adanya pertempuran yang berkepanjangan sehingga banyak samurai yang kehilangan tuannya
kehidupan seorang rōnin bagaikan ombak dilaut tanpa arah tujuan yang jelas. Ada beberapa alasan seorang samurai menjadi rōnin.Seorang samurai dapat mengundurkan diri dari tugasnya untuk menjalani hidup sebagai rōnin. Adapula rōnin yang berasal dari garis keturunan, anak seorang rōnin secara otomatis akan menjadi rōnin. Eksistensi rōnin makin bertambah jumlahnya diawali berakhirnya perang Sekigahara (1600), yang mengakibatkan jatuhnya kaum samurai/daimyo yang mengakibatkan para samurai kehilangan majikannya.
B.
Sejarah
Samurai
Dalam catatan sejarah militer di Jepang,
terdapat data-data yang menjelaskan bahwa pada zaman Nara (710 – 784), pasukan
militer Jepang mengikuti model yang ada di Cina dengan memberlakukan wajib
militer dan dibawah komando langsung Kaisar. Dalam peraturan yang diberlakukan
tersebut setiap laki-laki dewasa baik dari kalangan petani maupun bangsawan,
kecuali budak diwajibkan untuk mengikuti dinas militer.
Secara materi peraturan ini amat berat, karena para wakil tersebut atau kaum milter harus membekali diri secara materi sehingga banyak yang menyerah dan tidak mematuhi peraturan tersebut. Selain itu pula pada waktu itu kaum petani juga dibebani wajib pajak yang cukup berat sehingga mereka melarikan diri dari kewajiban ini. Pasukan yang kemudian terbentuk dari wajib militer tersebut dikenal dengan sakimori ( 防人 ) yang secara harfiah berarti “pembela”, namun pasukan ini tidak ada hubungannya dengan samurai yang ada pada zaman berikutnya.
Setelah tahun 794, ketika ibu kota
dipindahkan dari Nara ke Heian (Kyoto), kaum bangsawan menikmati masa
kemakmurannya selama 150 tahun dibawah pemerintahan kaisar. Tetapi,
pemerintahan daerah yang dibentuk oleh pemerintah pusat justru menekan para
penduduk yang mayoritas adalah petani. Pajak yang sangat berat menimbulkan
pemberontakan di daerah-daerah, dan mengharuskan petani kecil untuk bergabung
dengan tuan tanah yang memiliki pengaruh agar mendapatkan pemasukan yang lebih besar.
Dikarenakan keadaan negara yang tidak aman, penjarahan terhadap tuan tanah pun
terjadi baik di daerah dan di ibu kota yang memaksa para pemilik shoen (tanah
milik pribadi) mempersenjatai keluarga dan para petaninya. Kondisi ini yang
kemudian melahirkan kelas militer yang dikenal dengan samurai.
Kelompok toryo
(panglima perang) dibawah pimpinan keluarga Taira dan Minamoto muncul sebagai
pemenang di Jepang bagian Barat dan Timur, tetapi mereka saling memperebutkan
kekuasaan.Pemerintah pusat, dalam hal ini keluarga Fujiwara, tidak mampu
mengatasi polarisasi ini, yang mengakibatkan berakhirnya kekuasaan kaum
bangsawan.
Kaisar Gonjo yang
dikenal anti-Fujiwara, mengadakan perebutan kekuasaan dan memusatkan kekuasaan
politiknya dari dalam o-tera yang dikenal dengan insei seiji.Kaisar Shirakawa
yang menggantikan kaisar Gonjo akhirnya menjadikan o-tera sebagai markas
politiknya. Secara lihai, ia memanfaatkan o-tera sebagai fungsi
keagamaan dan fungsi politik. Tentara pengawal o-tera, souhei ( 僧兵 ) pun ia bentuk, termasuk
memberi sumbangan tanah (shoen) pada o-tera. Lengkaplah sudah o-tera memenuhi
syarat sebagai “negara” di dalam negara.Akibatnya, kelompok kaisar yang anti
pemerintahan o-tera mengadakan perlawanan dengan memanfaatkan kelompok Taira
dan Minamoto yang sedang bertikai.
Keterlibatan Taira dan Minamoto dalam pertikaian ini berlatar
belakang pada kericuhan yang terjadi di istana menyangkut perebutan tahta,
antara Fujiwara dan kaisar yang pro maupun kotra terhadap o-tera.Perang antara
Minamoto, yang memihak o-tera melawan Taira, yang memihak istana, muncul dalam
dua pertempuran besar yakni Perang Hogen (1156) dan Perang Heiji (1159).
Peperangan akhirnya dimenangkan oleh Taira yang menandai perubahan besar dalam struktur kekuasaan politik.Untuk pertama kalinya, kaum samurai muncul sebagai kekuatan politik di istana.
Taira pun mengangkat dirinya sebagai kuge ( 公家 – bangsawan kerajaan), sekaligus memperkokoh posisi samurai-nya. Sebagian besar keluarganya diberi jabatan penting dan dinobatkan sebagai bangsawan.
Keangkuhan keluarga Taira akhirnya melahirkan konspirasi politik tingkat tinggi antara keluarga Minamoto (yang mendapat dukungan dari kaum bangsawan) dengan kaisar Shirakawa yang pada akhirnya mengantarkan keluarga Minamoto mendirikan pemerintahan militer pertama di Kamakura (Kamakura Bakufu; 1192 – 1333).Ketika Minamoto Yoritomo wafat pada tahun 1199, kekuasaan diambil alih oleh keluarga Hojo yang merupakan pengikut Taira. Pada masa kepemimpinan keluarga Hojo (1199 -1336), ajaran Zen masuk dan berkembang di kalangan samurai.Para samurai mengekspresikan Zen sebagai falsafah dan tuntunan hidup mereka.
Peperangan akhirnya dimenangkan oleh Taira yang menandai perubahan besar dalam struktur kekuasaan politik.Untuk pertama kalinya, kaum samurai muncul sebagai kekuatan politik di istana.
Taira pun mengangkat dirinya sebagai kuge ( 公家 – bangsawan kerajaan), sekaligus memperkokoh posisi samurai-nya. Sebagian besar keluarganya diberi jabatan penting dan dinobatkan sebagai bangsawan.
Keangkuhan keluarga Taira akhirnya melahirkan konspirasi politik tingkat tinggi antara keluarga Minamoto (yang mendapat dukungan dari kaum bangsawan) dengan kaisar Shirakawa yang pada akhirnya mengantarkan keluarga Minamoto mendirikan pemerintahan militer pertama di Kamakura (Kamakura Bakufu; 1192 – 1333).Ketika Minamoto Yoritomo wafat pada tahun 1199, kekuasaan diambil alih oleh keluarga Hojo yang merupakan pengikut Taira. Pada masa kepemimpinan keluarga Hojo (1199 -1336), ajaran Zen masuk dan berkembang di kalangan samurai.Para samurai mengekspresikan Zen sebagai falsafah dan tuntunan hidup mereka.
Pada tahun 1274, bangsa Mongol datang menyerang Jepang.Para
samurai yang tidak terbiasa berperang secara berkelompok dengan susah payah
dapat mengantisipasi serangan bangsa Mongol tersebut. Untuk mengantisipasi
serangan bangsa Mongol yang kedua (tahun 1281), para samurai mendirikan tembok
pertahanan di teluk Hakata (pantai pendaratan bangsa mongol) dan mengadopsi
taktik serangan malam.Secara menyeluruh, taktik berperang para samurai tidak
mampu memberikan kehancuran yang berarti bagi tentara Mongol, yang menggunakan
taktik pengepungan besar-besaran, gerak cepat, dan penggunaan senjata baru
(dengan menggunakan mesiu).Pada akhirnya, angin topanlah yang menghancurkan
armada Mongol, dan mencegah bangsa Mongol untuk menduduki Jepang.Orang Jepang
menyebut angin ini kamikaze (dewa angin).
Pada zaman Muromachi (1392 – 1573), diwarnai dengan
terpecahnya istana Kyoto menjadi dua, yakni Istana Utara di Kyoto dan Istana
Selatan di Nara.Selama 60 tahun terjadi perselisihan sengit antara Istana Utara
melawan Istana Selatan (nambokuchō tairitsu).Pertentangan ini memberikan dampak
terhadap semakin kuatnya posisi kaum petani dan tuan tanah daerah (shugo
daimyō) dan semakin lemahnya shogun Ashikaga di pemerintahan pusat. Pada masa
ini, Ashikaga tidak dapat mengontrol para daimyō daerah.Mereka saling
memperkuat posisi dan kekuasaannya di wilayah masing-masing.
Setiap Han13 seolah terikat dalam sebuah negara-negara kecil yang saling mengancam. Kondisi ini melahirkan krisis panjang dalam bentuk perang antar tuan tanah daerah atau sengoku jidai (1568 – 1600). Tetapi krisis panjang ini sesungguhnya merupakan penyaringan atau kristalisasi tokoh pemersatu nasional, yakni tokoh yang mampu menundukkan tuan-tuan tanah daerah, sekaligus menyatukan Jepang sebagai “negara nasional” di bawah satu pemerintahan pusat yang kuat. Tokoh tersebut adalah Jenderal Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi.
Setiap Han13 seolah terikat dalam sebuah negara-negara kecil yang saling mengancam. Kondisi ini melahirkan krisis panjang dalam bentuk perang antar tuan tanah daerah atau sengoku jidai (1568 – 1600). Tetapi krisis panjang ini sesungguhnya merupakan penyaringan atau kristalisasi tokoh pemersatu nasional, yakni tokoh yang mampu menundukkan tuan-tuan tanah daerah, sekaligus menyatukan Jepang sebagai “negara nasional” di bawah satu pemerintahan pusat yang kuat. Tokoh tersebut adalah Jenderal Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi.
Samurai di Jaman Edo
Samurai
di zaman Edo menjalankan kewajiban melayani tuan tanah feodal masing-masing
dengan dua cara. Pertama, menjalankan tugas keprajuritan pada masa damai, yakni
menjaga benteng daimyō, mengawal daimyō ketika ia pergi dan pulang ke Edo, dan
menyediakan pasukan yang dapat digunakan daimyo untuk menjaga tanahnya.Namun
setelah Tokugawa berhasil mewujudkan ketertiban di Jepang pada abad ke-17, para
samurai ini kebanyakan menjalankan tugas administrasi. Karena para samurai
tidak dapat lagi diandalkan untuk bertempur, shogun dan daimyō tidak ingin
menghilangkan nilai kesetiaan dan keberanian samurai, tetapi perkelahian dan
balas dendam turun temurun, sering terjadi dan merupakanbagian dari kehidupan
samurai yang tidak sesuai dalam masyarakat aman dan damai yang sedang mereka
bangun. Untuk mendorong agar para samurai mau menerima perubahan, maka
disediakan imbalan. Pada abad ke-18, pejabat mendapat tunjangan tambahan untuk
menambah gaji. Pekerjaan yang baik menjadi salah satu pertimbangan untuk naik
pangkat, yang membuka kemungkinan untuk naik jabatan.
C.
Pendekar-Pendekar
Samurai
1.
Miyamoto Musashi
Pendekar
samurai di zaman Edo. Menjadi pengembara selama bertahun tahun untuk menjadi
pendekar samurai terhebat di Jepang, akhirnya ia menciptakan Nitouryu (teknik bertarung
dengan dua pedang).Seorang pendekar hebat yang tidak pernah terkalahkan dalam
60 kali pertarungannya. Mempunyai rival bernama Sasaki Kojiro yang berhasil
dibunuhnya dalam duel Ganryujima (duel dari pulau Ganryu).
2. Sasaki Kojiro
Seorang
Pendekar samurai dari zaman Edo juga, merupakan rival berat Miyamoto Musashi.
Ia terus melatih teknik menebas jurus burung Swallow terbang miliknya, dan
memakai pedang samurai bernama Tsubamegaeshi yang panjang seperti tiang jemuran
pakaian, sehingga harus dia pikul ketika membawanya.Tewas dalam duel Ganryujima
melawan Musashi.
3.
Hijikata Toshizo
Seorang
pendekar samurai dari Tennenrishinryu. Wakil ketua pasukan Shinsengumi di
akhir zaman Edo. Dia adalah teman baik dari Kondo Isami sejak dari kecil.
Persahabatan mereka tidak berubah sepanjang hidup mereka. Di dalam berbagai
pertempuran setelah kematian Kondo, ia tidak pernah menyerah. Ketika kalah
dalam pertempuran penentuan di Hokkaido, ia melompat keluar sebelum musuh
menangkapnya dan berpura pura mati. Dia berumur sampai tiga puluh empat tahun.
4.
Souji Okita
Souji
Okita juga seorang pendekar samurai dari Tennenrishinryu.Kapten unit ke satu
dari kelompokShinsengumi. Meskipun Shouji Okita adalah seorang pendekar
berbakat, tetapi dia meninggal karena penyakit TBC pada usia dua puluhan.
5.
Kondo Isami
Pendekar
samurai yang ikut berhasil menyukseskan kelompok Tennenrishinryu (Tennenrishin
metode pedang). Kepala pasukan Shinsengumi pada akhir periode Edo. Dia memimpin
banyak anggota yang tangguh dengan semangat dan kesetiaan kelompok yang tinggi.
Kondo Isami menolak penjatuhan Keshogunan Edo sampai saat terakhir, maka ketika
dia kalah dia dihukum penggal.
6. Yagyu Jubei
Pendekar
di zaman Edo. Ia adalah pelayan Tokugawa Iemitsu. Dia menguasai
Yagyushinkageryu (teknik pedang Yagyushinkage).
7. Sarutobi Sasuke
7. Sarutobi Sasuke
Salah
satu ninja dari klanKoga. Karena ayah angkatnya adalah seorang bawahan tua
keluarga Sanada, ia juga melayani Sanada Yukimura. Mempunyai rival bernama
Kirigakure Saizo seorang ninja dari klan Iga. Menurut cerita ia meninggal dalam
peristiwa Osaka Natsu No Jin (pertempuran Osaka di musim panas).
8.
Ninomiya Sontoku
Ninomiya Kinjiro adalah namanya ketika
masih kecil. Ia terkenal sebagai anak rajin yang belajar selain rajin membantu
pekerjaan orang tuanya. Sampai beberapa tahun lalu, hampir setiap Sekolah Dasar
di Jepang terdapat patung perunggu Ninomiya Sontoku yang berjalan membawa kayu
bakar di punggungnya sambil membaca buku. Tetapi saat ini banyak patung yang
dibongkar, karena pemerintah takut para siswa di Jepang menirunya (membaca buku
sambil berjalan), sehingga membahayakan keselamatan mereka.
9.
Sakamoto Ryoma
Hampir setiap pahlawan dari Boshin Wars
(Revolusi Meiji) adalah pendekar kampung, dia adalah salah satu dari mereka.
Sakamoto Ryoma ia pergi ke Edo (Tokyo) dengan ambisi besar dan berpikir tentang
masa depan Jepang.Ide berani dan tindakan agresif nya memainkan peran penting
untuk era baru Jepang pada masa restorasi Meiji.
10. Oishi Kuranosuke
Pemimpin dari Akou Roushi (samurai tidak
bertuan dari Akou). Dia berwatak santai tidak emosional, dan rasional. Jadi,
membalas dendam adalah keputusan terakhir baginya. Kebijaksanaan dan kesuksesan
strateginya diakui oleh hampir semua orang Jepang.
11. Mito Koumon
(Mitsukuni Mito)
Mito Koumon adalah seorang penguasa
daerah timur Mito. Dia terkenal sebagai pemimpin yang cerdas dalam sejarah
Jepang. Namun, Mito Koumon lebih terkenal sebagai seorang tua yang menyamar,
berkeliling negeri mengoreksi ketidakadilan.
D.
Senjata
Samurai
Pedang samurai atau lebih baik disebut
sebagai pedang bangsa Jepang yang digunakan oleh para samurai atau bushi,
mereka dikenal dalam sejarah Jepang.Untuk membuka sejarah pedang samurai kita
kembali kemasa lalu selama periode abad pertengahan ketika penggunaan baja
sebagai ganti perunggu dalam senjata bilah sangat meningkat, pedang bermata
tunggal menjadi sangat populer di wilayah asia, dan pembuatan Tachi dan
Uchigatana dari Jepang dimulai.Pedang-pedang Jepang atau Nihonto adalah senjata
berbilah tradisional sepanjang sejarah peradaban Jepang. Tachi digunakan oleh
pasukan kaveleri dengan bentuk lebih panjang dan melengkung dengan sisi tajam
mengarah kebawah dari sabuk. Uchigatana digunakan oleh prajurit infantri lebih
pendek dengan sisi tajam mengarah keatas.Hanya penempa pedang yang
berpengalaman saja yang mampu mengembangkan metode penempaan dan pengaturan
panas untuk menghasilkan pedang-pedang sesuai kebutuhan saat itu, yang kemudian
dinamakan Katana.Bahkan katana itu sendiri sangat bervariasi dalam gaya selama
periode sejarah pedang samurai.Pada akhir abad 14 dan awal abad 15 pedang
katana berukuran 70cm dan 73cm,tetapi diawal abad 16 panjang pedang 60cm, namun
diakhir abad tersebut pedang kembali berukuran 73cm.Pedang Katana selalu
disandingkan dengan pedang Wakizashi atau Shoto,bentuk sama namun lebih pendek,
keduanya mewakili kekuatan sosial dan kehormatan pribadi para samurai.
E.
Kepangkatan
Samurai
Dalam
status sosial sebagai samurai, ada peringkat yang berbeda yang yang diikuti
dengan hak yang berbeda. Pada abad ke-12, Ada 3 peringkat utama Samurai.
Peringkat ini adalah:
1.
Kenin - housemen, yang tugasnya adalah sama sebagai administrator atau
pengikut.
2.
Foot Prajurit, adalah prajurit yang berjalan kaki.
3.
Mount Samurai - peringkat tertinggi samurai, yang diizinkan untuk melawan
sambil menunggang kuda.
F.
Adat
Istiadat Samurai
1. Kematian Samurai
Kematian
dianggap sebagai jalan yang mulia bagi seorang samurai daripada tindakan
pahlawan-pahlawan lain. Cara kematian dianggap suatu hal yang sangat penting
bagi seorang samurai. Ajaran yang menerangkan mengenai “mati yang terbaik”
telah ditulis di dalam sebuah buku, Hagakure pada kurun ke-18. Ditulis lama
selepas tentera samurai berangkat ke medan peperangan, Hagakure – buku tersebut
dikatakan telah membawa semangat dan panji samurai ke arah kemelaratan dan kesesatan. Dua Kematian Cara Samurai yaitu
Mati Di Medan Pertempuran dan Seppuku.
Cara Kematian 1: Mati
Di Medan Pertempuran
Sebagaimana pejuang-pejuang Islam yang menganggap mati syahid
dalam peperangan untuk membela Islam sebagai satu kemuliaan, begitu juga dengan
para samurai. Mati dibunuh di medan perang adalah lebih baik daripada hidup
tetapi ditangkap oleh musuh. Kebiasaanya, seseorang samurai akan membuat puisi
kematian ketika menjelang maut.
Cara Kematian 2:
Seppuku
Tindakan di mana seseorang menyobek perutnya, sebagai suatu
cara membunuh diri. Merupakan unsur yang paling popular dalam mitos samurai.
Bagi seorang samurai, membunuh diri adalah lebih baik daripada membiarkan
ditangkap, karena sekiranya samurai itu masih hidup dan ditangkap, ia dianggap
membawa malu kepada nama keluarga dan raja.
Di Barat, cara membunuh diri ini dipanggil Hara-kiri (artinya tindakan Membunuh diri dengan membelah perut – tetapi istilah ini tidak digunakan oleh para samurai), tidak diketahui kapan istilah itu digunakan. Walau bagaimana pun, seperti yang tercatat dalam sejarah, Seppuku ini mula dilakukan oleh Minamoto Tametomo dan Minamoto Yorisama pada akhir kurun ke-12. Dari sinilah asalnya seorang samurai memilih cara ini karena lebih mudah melakukan dibandingkan membunuh diri dengan cara memenggal kepala sendiri.
2. Ritual Pertempuran
Pada pertempuran di abad pertengahan
dan periode modern awal ternyata ada ritual. Misalnya, upacara khusus berlaku sebelum masuk
ke pertempuran dan ritual khusus yang dilakukan untuk merayakan kemenangan.
Sebelum memasuki pertempuran, tidak jarang para Samurai berdo’a yang akan ditawarkan kepada Shinto
seperti dewa-dewa perang, meminta bantuan ilahi dalam mengamankan kemenangan.
Berselamatan juga disiapkan sebelum pertempuran di mana makan makanan dengan
nama-nama yang menunjukkan kemenangan dikonsumsi, seperti kachi Guri, atau
chestnut kering.
3. Perkawinan
Pernikahan samurai dilakukan oleh
seorang pengatur pernikahan dengan peringkat sama atau lebih tinggi. Sedangkan
bagi mereka samurai di jajaran atas ini adalah sebuah kebutuhan. Ini adalah
formalitas untuk samurai peringkat yang lebih rendah. Kebanyakan samurai wanita
menikah dari keluarga samurai, tapi untuk pernikahan samurai peringkat rendah,
diizinkan dengan rakyat jelata. Dalam sebuah perkawinan, mahar dibawa oleh
wanita itu dan digunakan untuk memulai kehidupan baru mereka.Seorang samurai
bisa memiliki simpanan tapi latar belakangnya itu diperiksa ketat oleh samurai
peringkat yang lebih tinggi. Dalam banyak kasus, ini diperlakukan seperti
pernikahan. Jika istri samurai melahirkan anak, ia bisa jadi samurai.
4. Wanita
Menjaga rumah tangga adalah tugas
pokok perempuan samurai. Hal ini khususnya penting selama awal feodal Jepang,
ketika suami prajurit sering bepergian ke luar negeri atau terlibat dalam
pertempuran, istri
dibiarkan untuk mengelola semua urusan rumah tangga, perawatan bagi anak-anak,
dan mungkin bahkan mempertahankan rumah secara paksa. Untuk alasan ini, banyak
perempuan dari kelas samurai dilatih dalam memegang polearm naginata atau pisau
khusus untuk melindungi rumah tangga mereka, keluarga, dan kehormatan jika
diperlukan.Ciri-ciri wanita terhormat di kelas samurai kerendahan hati,
ketaatan, pengendalian diri, kekuatan, dan kesetiaan. Idealnya, seorang istri
samurai akan terampil mengelola properti, menyimpan catatan, berurusan dengan
masalah keuangan, mendidik anak-anak dan merawat orang tua usia lanjut. Jadi, seorang wanita juga untuk
latihan disiplin.
G.
Taktik
Perang
Latihan
Pertempuran persiapan meliputi
berbagai kegiatan, termasuk mental serta latihan fisik. Warriors didorong untuk
merumuskan filsafat tentang kematian, dan pemikiran ke dalam sikap disiplin
mereka terhadap kehidupan, bahaya, dan kematian.
Formasi
Dalam
mempersiapkan beberapa pertempuran, tentara samurai terhubung dengan perisai
dalam formasi yang disebut kaidate. Linked adalah perisai kayu efektif untuk
menghalangi kemajuan lawan, seperti benteng sementara, misalnya hambatan sikat
ditumpuk disebut sakamogi, terutama ketika konflik terjadi di ladang atau
dataran tinggi yang terbuka. Perisai besar-besaran lebih mudah digunakan
daripada hambatan sikat, yang membutuhkan tenaga kerja manusia secara
signifikan dan perisai dapat dipindahkan ke lokasi lain setelah digunakan.
Namun, dinding perisai sakamogi rentan jika dihadapkan dengan api. Senjata ini disukai oleh prajurit
awal abad pertengahan.
Panahan / Kavaleri Strategi
Sejak
baju besi oyoroi cukup berat untuk memperlambat kemajuan, busur yang digunakan
lemah, pemanah Jepang dipaksa untuk menembak dari jarak dekat. Dengan jarak 10
meter atau kurang antara pemanah dan target, pemanah harus hati-hati
mengidentifikasi dan menargetkan kelemahan dalam baju besi lawan.
Sinyal dan Identifikasi
Sinyal
menjadi cara yang efektif untuk mengontrol pasukan dari jarak jauh selama
pertempuran, karena hanya dengan mengkordinasikan, usaha bisa berhasil.
Strategi termasuk penggunaan barang-barang seperti bendera, drum, dan cangkang
kerang, serta penyebaran sinyal api dan kurir di belakang baju besi mereka.
Seorang komandan juga harus handal dalam menyampaikan pesan perintah untuk
jendral lain dan memastikan kepatuhan tepat waktu dengan arahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar